Winner – Best News Website or Mobile Service | Asian Digital Media Awards 2019

Jaringan mikro menghantarkan listrik ke daerah pedalaman Asia Tenggara dan menjaga reputasi resor ramah lingkungan

Di kawasan dengan kebutuhan listrik yang bertumbuh dengan cepat, jaringan mikro dapat membantu penerapan energi terbarukan dan memangkas ketergantungan terhadap diesel. Kembalinya kicauan burung seketika menjadi dampak tak terduga.

Resor pulau pribadi yang ia turut dirikan pada tahun 2012 telah menginvestasikan sistem pengolahan air bersih yang mutakhir, manajemen sampah, serta pembuatan kompos dari makanan.

Pemanfaatan listrik tenaga surya menjadi sasaran berikutnya bagi Cher Chua-Lassalvy, pengelola Batu Batu di Pulau Tengah, Johor Marine Park, Malaysia. Dia menantikan datangnya kontak dari orang yang tepat.

Dalam suatu pelatihan dalam rangka Global Sustainable Tourism Council di Chiang Mai, 2019, ia menyaksikan sebuah presentasi oleh Sujay Malve, pemimpin eksekutif Canopy Power, perusahaan start-up berusia tiga tahun yang telah memasang jaringan listrik mikro di beberapa resor ramah lingkungan di Asia Tenggara.

Mereka berbincang setelah pelatihan tersebut dan perbincangan itu menjadi titik permulaan bagi Chua-Lassalvy.

Melalui sistem hibrida fotovoltaik-penyimpanan, energi surya akan memasok 30 persen dari kebutuhan energi Batu Batu dan proporsinya dapat terus meningkat bila ia bekerja dengan konsultan untuk memangkas konsumsi listrik.

Jaringan mikro adalah jaringan listrik lokal yang dapat disambungkan dengan jaringan utama atau pun bekerja independen. Teknologi ini diusung sebagai salah satu cara untuk memacu penerapan energi terbarukan, terutama di kawasan yang kebutuhan listriknya meningkat tajam seperti Asia Tenggara.

Jaringan mikro menjadi solusi bagi masyarakat yang tidak terjangkau listrik atau pun yang sering mengalami pemadaman bergilir. International Renewable Energy Agency memperkirakan terdapat 65 juta orang di Asia Tenggara yang tidak mendapatkan akses listrik yang handal dan memadai.

Proyek jaringan listrik mikro tumbuh seiring turunnya harga komponen seperti baterai dan panel surya, disertai harga listrik energi terbarukan yang belakangan mulai setara atau bahkan lebih murah daripada harga listrik dari bahan bakar fosil.

Tahun 2018, Solar Philippines, salah satu perusahaan energi surya terbesar di Filipina, menyelesaikan jaringan listrik mikro tenaga surya-baterai terbesar di Asia Tenggara di kota Paluan. Proyek ini terdiri dari 2 megawatt (MW) panel surya, baterai dengan kapasitas 2 MWh dan penyokong berbahan bakar diesel dengan kapasitas 2 MW.

Di Myanmar, Yoma Micro Power telah memasang 51 pembangkit listrik mikro di daerah terpencil dan akan menambah 200 pembangkit lagi hingga akhir 2019.

Pada akhir Januari 2019, WEnergy Global yang berbasis di Singapura bekerja sama dengan konsultan manajemen ICMG Partners dan perusahaan investasi Greenway Grid Global untuk mendirikan entitas investasi senilai 60 juta dolar AS. Entitas ini bertujuan membiayai dan mengelola proyek energi terbarukan di Asia Tenggara. WEnergy juga memiliki proyek jaringan mikro di kawasan ini.

Dari langkah sederhana hingga menjadi arus utama

Jaringan listrik mikro mulai menarik perhatian investor untuk mengucurkan dana bagi proyek-proyek terkait, ucap Malve, yang mendirikan Canopy Power di tahun 2016. “Itu tandanya jaringan mikro telah menjadi bagian arus utama,” ujarnya. “Menurut saya, ini merupakan opsi permulaan (dalam pertarungan melawan) perubahan iklim.”

Meskipun rasa takut terhadap teknologi ini masih nyata di antara penggunanya, mereka juga semakin sadar akan potensi dari jaringan mikro. Tiga tahun lalu, “orang tidak tahu bahwa ada solusi yang tersedia. Ada juga yang tahu akan solusi ini tapi tidak tahu siapa yang harus mereka hubungi. Dan ada juga yang sudah siap (untuk menerapkan jaringan mikro) tetapi tidak memiliki dana,” ujar Malve.

Misool, sebuah resor ramah lingkungan di Raja Ampat, Indonesia, merupakan klien pertama Canopy Power. Di tahun 2018, resor ini menanamkan 530.000 dolar AS untuk sistem hibrida penyimpanan fotovoltaik, yang menyumbang energi terbarukan sebesar 55 persen dari kebutuhan resor tersebut. Pemasangan baterai dan panel surya tambahan sudah berjalan dan akan meningkatkan persentase listrik dari energi terbarukan menjadi sekitar 80 persen.

Klien lain Canopy Power meliputi pulau pribadi Telunas di Indonesia dan Wa Ale Island Resort di Myanmar. Salah satu pendiri Telunas, Mike Schubert, berkata bahwa timnya telah mengkaji penggunaan sumber listrik alternatif selama satu dekade lebih, namun terkendala dua hal. Mereka membutuhkan sistem yang terjangkau secara finansial–tanpa jangka waktu balik modal selama 20 tahun–serta penyedia layanan yang menawarkan jasa pengawasan dan perbaikan setelah instalasi.

Penetrasi energi terbarukan dari klien Canopy Power berkisar antara 30 hingga 85 persen.

“Kadang ada yang bertanya, ‘Kenapa 85 persen, mengapa tidak 100 persen?’,” kata Malve.

“Untuk melingkupi sisa 10 sampai 15 persen itu, dibutuhkan sistem panel surya dan baterai yang sangat besar. Bayangkan bila ada empat atau lima hari tanpa cahaya matahari. Untuk menanggulangi hari-hari seperti itu, sistem baterai yang dibutuhkan sangat besar dan biaya pun meningkat secara eksponensial. Kami membawa pelanggan ke ambang batas yang masih dapat diterapkan.”

Jangka waktu balik modal untuk jaringan listrik mikro berkisar antara tiga hingga tujuh tahun, tergantung biaya diesel, dan sistemnya bisa bertahan selama 20 sampai 25 tahun. Turunnya emisi karbon menjadi nilai pemasaran yang baik bagi resor-resor pengguna, ucap Malve.

[Bahasa Indonesia] sujay and canopy team

Pimpinan eksekutif Canopy Power Sujay Malve (kedua dari kiri) dan beberapa anggota timnya sedang bekerja pada sistem pengawasan jarak jauh Hornbill. Foto: Eco-Business

Proyek jaringan listrik mikro biasanya dapat memakan waktu empat sampai enam bulan akibat lokasi proyek yang terpencil, “perjalanan ke lokasi selalu menyenangkan”, ujar Malve.

Logistik selalu menjadi tantangan dan semua harus direncanakan dengan matang. Malve dan timnya harus mengemas peralatan yang tidak dimiliki klien, seperti mesin pengangkat, dengan bobot seringan mungkin. Beban peralatan-peralatan ini tidak boleh melebihi 200 atau 300 kg sehingga bisa diangkat oleh pekerja di lapangan.

Setelah jaringan mikro terpasang, dampak yang langsung terasa adalah kesunyian di lingkungan sekitar. Jam operasi generator diesel yang biasanya 24 jam per hari berganti menjadi kesunyian selama 12 hingga 18 jam. “Kicauan burung pun bisa terdengar,” kata Malve.

Malve dan timnya memberi pelatihan bagi staf resor dalam hal perawatan mendasar, seperti pembersihan sistem dan pemeriksaan kabel. Dengan sistem pengawasan jarak yang disebut Hornbill, Malve bisa memeriksa kinerja sistem kliennya dengan ponsel dan dapat mengambil tindak pencegahan sebelum kerusakan terjadi.

Perlunya pendanaan untuk proyek yang lebih besar

Walau pelaku pariwisata adalah klien-klien awal bagi Canopy Power, perusahaan tersebut sudah mulai mendapatkan permintaan dari sektor perikanan, perkebunan dan pelaku industri lainnya. Proyek seperti ini skalanya empat sampai enam kali lebih besar dibandingkan proyek untuk resor wisata. Komponen pembiayaan akan menjadi bahan pertimbangan yang menentukan, ujar Malve.

Melalui kerja sama dengan penyandang dana dari Eropa, Canopy Power akan meluncurkan suatu produk pada akhir tahun 2019. Produk ini menyediakan pembiayaan dalam format perjanjian pembelian listrik, penyewaan peralatan atau skema save-to-own, suatu skema yang mengatur pembayaran berdasarkan penghematan biaya yang terwujud, kata Malve.

Di Batu Batu, panel surya yang akan selesai dipasang pada Januari 2020 akan menjadi kebanggaan tersendiri. Panel-panel itu akan diletakkan di atap restoran utama dan bar, “posisi terdepan dan sentral sehingga dapat dilihat oleh kapal-kapal yang lewat”, ucap Chua Lassalvy. Selain mengelola resor ramah lingkungan, ia juga mendirikan organisasi nirlaba Tengah Island Conservation yang bergerak untuk mengelola keanekaragaman hayati, termasuk konservasi penyu laut.

“Kami ingin berbuat nyata untuk mendukung energi terbarukan,” ujarnya. “Ini juga membantu kami dalam menghimbau sesama pelaku pariwisata serta pemerintah daerah dan pusat untuk mendukung perencanaan dan praktek pariwisata yang berkelanjutan, dengan cara memamerkan sesuatu yang jelas lebih berkelanjutan.”

Read the story in English here.

Thanks for reading to the end of this story!

We would be grateful if you would consider joining as a member of The EB Circle. This helps to keep our stories and resources free for all, and it also supports independent journalism dedicated to sustainable development. For a small donation of S$60 a year, your help would make such a big difference.

Find out more and join The EB Circle

blog comments powered by Disqus

Most popular

View all news

Industry Spotlight

View all

Feature Series

View all
Asia Pacific's Hub For Collaboration On Sustainable Development
An Eco-Business initiative
The SDG Co